SOFTSKILL
Tugas SoftSkill 1 Masalah Individu, keluarga dan Masyarakat.
Maaf Temanku,Maafkan
Ketidakpekaanku
Dulu saya punya teman baik namanya Dodi(bukan nama asli),
saya dan Dodi memang tidak terlalu akrab tapi kami berdua berteman satu kelas,
saat di kelas 11 dan 12. Saya dan Dodi tentunya juga dengan tiga teman saya
yang lain yang tadinya satu kelas saat saya di kelas 11 SMA. Kami berlima
selalu bersama dalam bercanda gurau, saya pun dapat merasakan tawa di setiap
saya berada disekitar mereka. Tapi semua itu hilang setelah sebuah kejadian tak
terduga dan tak bisa saya tangani pun terjadi.
Waktu itu guru pelajaran mulok saya memberikan instruksi
kepada kami untuk membuat kelompok, dan kelompoknya ternyata dipilih
berdasarkan hitungan perkursi duduk siswa di kelas, beruntungnya dalam hati saya,
saya sekelompok dengan teman saya Dodi itu, dan juga tiga teman kelas saya
lainnya. Dan pembagian tugas kelompok pun dimulai. Kelompok saya mendapatkan
tugas untuk survey ke museum Fatahilah di Kota Tua. Lalu kami pun
merencanakannya sabtu minggu itu.
Di hari sabtu yang kami rencanakan itu, kami semua berkumpul
di depan sekolah kami. Kami pun berangkat bersama-sama setelah kami semua
berkumpul. Saat perjalanan berangkat motor saya dibawa oleh teman laki-laki
satu kelompok dengan saya, dan kemudian saya naik motornya Dodi dan dia yang
mengemudi, rencananya kami berdua akan bergantian mengemudi, Dodi saat
berangkat dan saya saat perjalanan pulang.
Sesampainya di Kota Tua kami pun langsung berangkat menuju
Museum Fatahilah, kami memfoto semua benda yang akan kami persentasikan, dan
juga tak ketinggalan kami semua menyempatkan diri berfoto bersama. Semua
berjalan dengan menyenangkan dan saya pun tak menduga ada ternyata ada sebuah
kejadian mengerikan yang sedang menunggu saya.
Saat perjalanan pulang saya dan Dodi pun bergantian
mengemudi, jadi saya sekarang yang mengemudikan motornya Dodi. Kami pun
berjalan kembali menuju ke sekolah, dan di perjalanan pulang kejadian
mengerikan yang menjadi penyebab hancurnya persahabatan saya dengan Dodi pun
terjadi.
Saat saya sedang mengemudikan motornya Dodi sambil
sedikit-sedikit bercakap-cakap dengannya. Tiba-tiba didepan kami ada sebuah
motor bebek yang menyebrang tanpa saya ketahui dan motor yang saya kemudiakan
pun bertabrakan dengan motor orang itu. Pada saat itu terjadilah kecelakaan
pertama saya. Rasanya seperti pikiran hilang sesaat, hanya tersisah gambaran
dari lontaran serpihan-serpihan motor Dodi yang terpontang-panting entah
kemana.
Saat itu yang terpikir olehku adalah Dodi, apakah dia
baik-baik saja? Lalu motornya Dodi yang harus saya ganti nanti. Lalu Dodi pun
memanggil saya dan mengatakan apa kau baik-baik saja sambil menbangkitkan
motornya. Serpihan-serpihan dari motornya pun diambilnya dan di masukan ke jok
motornya, dan si penyebrang sialan itu hanya meminta maaf dan pergi dengan
motornya yang masih utuh dan hanya mendapatkan lecet yang tak berarti.
Saya pun syok dan saat itu juga Dodi yang menggantikan saya
membawa motornya, saya pun duduk dibelankang dan sangat tidak enak hati kepada
Dodi dan saya tidak tahu harus bilang apa pada nya, dan saya hanya bisa meminta
maaf kepada dia.
Sesampainya di sekolah Dodi hanya pamit dan langsung pulang
kerumah nya dan saya rasa dia pasti marah sekali pada saya karena telah
menghancurkan motor kesayangannya.
Sesampainya dirumah saya pun menceritakan kejadian itu kepada
kedua orang tua saya, dan saya bilang ada kemungkinan saya harus mengganti
semua kerusakan motornya. Dan orang tua saya pun hanya bisa mengiyakan dan
pasrah, lalu hanya bisa berharap kerugian yang kami tanggung tidak akan besar.
Kemudian saya pun berbincang dengan Dodi mengenai biaya
perbaikan motornya, dan dia bilang kita bisa menanggungnya berdua alias
setengah-setengah, saya pun agak lega saat mendengarnya. Kemudian saya pun
mengatakan hal tersebut kepada kedua orang tua , tapi mereka penasaran tentang
berapa jumlah harganya.
Lalu minggunya saya menanyakan lagi berapa harganya lalu Dodi
menyebutkan nominalnyanya yaitu 884 ribu rupiah, saya bertanya apakah itu akan
dibagi dua? Karena tidak tahu apa-apa saya bertanya hal tersebut, lalu dia
menjawab “terserah deh” dan karena itu hanya dari social media jadi saya tidak
tahu nada dari bicaranya.
Lalu hari seninnya saya menanyakan langsung padanya apakah
nominal tersebut kita tanggung bedua?, dan ternyata dia malah seperti lesu dan
berkata” udah lah ga usah ribet” dan saya menanyakan apakah hal itu benar dan
dengan otomatis saya rada senang sekaligus lega karena saya pikir masalah ini
sudah selesai.
Namun ternyata hal ini malah membuat dia berpikir bahwa saya
tidak bertanggung jawab dan dia pun marah keapada saya, saya pun bertanya
kepada ketiga manatan teman kelas 11 saya bahwa apa yang sebenarnya terjadi. Dan
ternyata sebenarnya nominal yang di sebutkan Dodi itu seharusnya saya yang
menanggungnya tanpa di bagi dua karena Dodi sudah mengurus kerusakan yang
lainnya dan saya hanya disuruh mengurus kerusakan di bagian spabor depan
motornya.
Saya pun seketika terdiam dan saya pun meminta maaf kepada
Dodi dan iya pun memaafkannya, tetapi saya pikir itu hanyalah kata-kata dari
mulutnya kepada saya bahwa iya sudah memaafkan saya, karena kenyataannya
semenjak kejjadian itu sikapnya berubah menjauh dari saya, begitu juga ketiga
teman saya yang lain. Saya jadi sangat merasah bersalah dan merasa diasingkan.
Saya pun terus mencoba untuk dekat dengan Dodi kembali. Tetapi
sampai saat ini hunbungan kami sudah tidak seakrab yang dulu, walaupun memang
kita tidak bermusuhan tetapi hanya tidak sedekat yang dulu. Dan sampai sekarang
pun untungnya kami masih berteman walau tidak seakrab dulu. Sampai saat ini
saya masih menyesal kenapa dia tidak mngatakan saja yang sebenarnya waktu itu,
kenapa hanya berkata “yaudahdeh gausah ribet” dan membuat saya mencari tahu apa
yang sebenarnya terjadi. Sehingga mengorbankan petemanan kita.