Jumat, 17 Oktober 2014

Tugas SoftSkill 1 Masalah Individu, keluarga dan Masyarakat.

SOFTSKILL
Tugas SoftSkill 1 Masalah Individu, keluarga dan Masyarakat.


Maaf Temanku,Maafkan Ketidakpekaanku

Dulu saya punya teman baik namanya Dodi(bukan nama asli), saya dan Dodi memang tidak terlalu akrab tapi kami berdua berteman satu kelas, saat di kelas 11 dan 12. Saya dan Dodi tentunya juga dengan tiga teman saya yang lain yang tadinya satu kelas saat saya di kelas 11 SMA. Kami berlima selalu bersama dalam bercanda gurau, saya pun dapat merasakan tawa di setiap saya berada disekitar mereka. Tapi semua itu hilang setelah sebuah kejadian tak terduga dan tak bisa saya tangani pun terjadi.
Waktu itu guru pelajaran mulok saya memberikan instruksi kepada kami untuk membuat kelompok, dan kelompoknya ternyata dipilih berdasarkan hitungan perkursi duduk siswa di kelas, beruntungnya dalam hati saya, saya sekelompok dengan teman saya Dodi itu, dan juga tiga teman kelas saya lainnya. Dan pembagian tugas kelompok pun dimulai. Kelompok saya mendapatkan tugas untuk survey ke museum Fatahilah di Kota Tua. Lalu kami pun merencanakannya sabtu minggu itu.
Di hari sabtu yang kami rencanakan itu, kami semua berkumpul di depan sekolah kami. Kami pun berangkat bersama-sama setelah kami semua berkumpul. Saat perjalanan berangkat motor saya dibawa oleh teman laki-laki satu kelompok dengan saya, dan kemudian saya naik motornya Dodi dan dia yang mengemudi, rencananya kami berdua akan bergantian mengemudi, Dodi saat berangkat dan saya saat perjalanan pulang.
Sesampainya di Kota Tua kami pun langsung berangkat menuju Museum Fatahilah, kami memfoto semua benda yang akan kami persentasikan, dan juga tak ketinggalan kami semua menyempatkan diri berfoto bersama. Semua berjalan dengan menyenangkan dan saya pun tak menduga ada ternyata ada sebuah kejadian mengerikan yang sedang menunggu saya.
Saat perjalanan pulang saya dan Dodi pun bergantian mengemudi, jadi saya sekarang yang mengemudikan motornya Dodi. Kami pun berjalan kembali menuju ke sekolah, dan di perjalanan pulang kejadian mengerikan yang menjadi penyebab hancurnya persahabatan saya dengan Dodi pun terjadi.
Saat saya sedang mengemudikan motornya Dodi sambil sedikit-sedikit bercakap-cakap dengannya. Tiba-tiba didepan kami ada sebuah motor bebek yang menyebrang tanpa saya ketahui dan motor yang saya kemudiakan pun bertabrakan dengan motor orang itu. Pada saat itu terjadilah kecelakaan pertama saya. Rasanya seperti pikiran hilang sesaat, hanya tersisah gambaran dari lontaran serpihan-serpihan motor Dodi yang terpontang-panting entah kemana.
Saat itu yang terpikir olehku adalah Dodi, apakah dia baik-baik saja? Lalu motornya Dodi yang harus saya ganti nanti. Lalu Dodi pun memanggil saya dan mengatakan apa kau baik-baik saja sambil menbangkitkan motornya. Serpihan-serpihan dari motornya pun diambilnya dan di masukan ke jok motornya, dan si penyebrang sialan itu hanya meminta maaf dan pergi dengan motornya yang masih utuh dan hanya mendapatkan lecet yang tak berarti.
Saya pun syok dan saat itu juga Dodi yang menggantikan saya membawa motornya, saya pun duduk dibelankang dan sangat tidak enak hati kepada Dodi dan saya tidak tahu harus bilang apa pada nya, dan saya hanya bisa meminta maaf kepada dia.
Sesampainya di sekolah Dodi hanya pamit dan langsung pulang kerumah nya dan saya rasa dia pasti marah sekali pada saya karena telah menghancurkan motor kesayangannya.
Sesampainya dirumah saya pun menceritakan kejadian itu kepada kedua orang tua saya, dan saya bilang ada kemungkinan saya harus mengganti semua kerusakan motornya. Dan orang tua saya pun hanya bisa mengiyakan dan pasrah, lalu hanya bisa berharap kerugian yang kami tanggung tidak akan besar.
Kemudian saya pun berbincang dengan Dodi mengenai biaya perbaikan motornya, dan dia bilang kita bisa menanggungnya berdua alias setengah-setengah, saya pun agak lega saat mendengarnya. Kemudian saya pun mengatakan hal tersebut kepada kedua orang tua , tapi mereka penasaran tentang berapa jumlah harganya.
Lalu minggunya saya menanyakan lagi berapa harganya lalu Dodi menyebutkan nominalnyanya yaitu 884 ribu rupiah, saya bertanya apakah itu akan dibagi dua? Karena tidak tahu apa-apa saya bertanya hal tersebut, lalu dia menjawab “terserah deh” dan karena itu hanya dari social media jadi saya tidak tahu nada dari bicaranya.
Lalu hari seninnya saya menanyakan langsung padanya apakah nominal tersebut kita tanggung bedua?, dan ternyata dia malah seperti lesu dan berkata” udah lah ga usah ribet” dan saya menanyakan apakah hal itu benar dan dengan otomatis saya rada senang sekaligus lega karena saya pikir masalah ini sudah selesai.
Namun ternyata hal ini malah membuat dia berpikir bahwa saya tidak bertanggung jawab dan dia pun marah keapada saya, saya pun bertanya kepada ketiga manatan teman kelas 11 saya bahwa apa yang sebenarnya terjadi. Dan ternyata sebenarnya nominal yang di sebutkan Dodi itu seharusnya saya yang menanggungnya tanpa di bagi dua karena Dodi sudah mengurus kerusakan yang lainnya dan saya hanya disuruh mengurus kerusakan di bagian spabor depan motornya.
Saya pun seketika terdiam dan saya pun meminta maaf kepada Dodi dan iya pun memaafkannya, tetapi saya pikir itu hanyalah kata-kata dari mulutnya kepada saya bahwa iya sudah memaafkan saya, karena kenyataannya semenjak kejjadian itu sikapnya berubah menjauh dari saya, begitu juga ketiga teman saya yang lain. Saya jadi sangat merasah bersalah dan merasa diasingkan.
Saya pun terus mencoba untuk dekat dengan Dodi kembali. Tetapi sampai saat ini hunbungan kami sudah tidak seakrab yang dulu, walaupun memang kita tidak bermusuhan tetapi hanya tidak sedekat yang dulu. Dan sampai sekarang pun untungnya kami masih berteman walau tidak seakrab dulu. Sampai saat ini saya masih menyesal kenapa dia tidak mngatakan saja yang sebenarnya waktu itu, kenapa hanya berkata “yaudahdeh gausah ribet” dan membuat saya mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga mengorbankan petemanan kita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar